Monday, 21 September 2015

Sang Penakluk Hati

Entah mengapa aku begitu sulit untuk mengartikan semua rasa ini. Padahal engkau begitu tampak nyata dan terlihat begitu jelas dimataku.
Ah, entahlah.
Dalam kalut, pikiranku berkata 'ya' tapi kenapa tidak sejalan dan seiring dengan hatiku. Yang mana, hati ini selalu berkata tidak. Bagiku, engkau adalah hamparan ilusi yang membuat seseorang begitu mudah ditaklukkan lewat bayang semu.

Rentetan cerita yang fana, membuat hati ini selalu gelisah. Dimana, saat semuanya terlukis indah dan begitu jelas berada tepat dihadapanku. Namun selalu saja begitu, bahkan berulangkali terjadi. Entah sampai kapan engkau akan selalu menebarkan beribu-ribu kata indah
untuk dia..dia..dan juga mereka.

Rasa ini selalu menggoroti dalam hati, setelah tahu akan dirimu yang menjadikan diriku sebagai salah satu korban cinta sesaatmu. Meski begitu, tetap saja diri ini selalu merindu bahkan tak mudah untuk menghapus semua memori tentang dirimu.

Tampan pun tak ada apalagi harta. Tapi kenapa, engkau tega mengusik hati ini. Tapi ada daya, engkau memang sang penakluk hati yang telah memporak porandakan hati kecilku dan terpaksa diriku harus mengaku kalah atas rayuan dan janji manismu.

Terima kasih atas pelajaran yang telah engkau tanamkan dalam memori kehidupan diriku. Hingga aku tersadar atas apa yang semua telah kau berikan padaku 'Bunga, Kado, Puisi Dan Juga Cinta Palsu'. Satu hal yang pasti, aku bukanlah wanita yang tidak tahu terima kasih. Walaupun engkau telah membuat luka dihati tapi semua itu akan tetap terangkai indah dalam memori kehidupan. Karena aku sadar, semakin kuat keinginan diriku untuk membenci dirimu. Maka, semakin kuat pula kenangan yang hadir. Dan aku nggak mau itu terulang kembali.

Selamat tinggal sang penakluk hati, yang telah sukses membuat diriku terbuai oleh kata-katanya. Hingga membuat diriku sedikit terluka.

14 comments:

  1. kadang kita juga harus menaklukkan hati yang luka dengan sebuah harapan...semoga dirinya bahagia dengan pilihannya. tinggal kita yang harus memahami langkah selanjutnya untuk diri kita sendiri. tidak ada kata-kata bijak manapun yang bisa dijadikan solusi, biarkan hati itu mengerti dan bijak sendiri dalam menanggapi

    ReplyDelete
  2. Tidak sedang galau kan mba nandira?

    ReplyDelete
  3. Iya. Ini pelajaran, jangan mudah percaya sama sang penahluk hati, tapi percayalah sama Sang Pencipta. :)

    ReplyDelete
  4. Jauh-jauh dari tali ya kak. Hehehe :-P

    ReplyDelete
    Replies
    1. emang tali buat apaan :)
      hehe...!!!

      jangan sampai atuh mas :)

      Delete
  5. Bila cinta hanya untuk main-main, sebesar apapun keinginan memiliki jangan coba-coba mempertaruhkannya. Akan lebih baik jika penakluk hati di lupakan :)
    Maaf Mbak gak bisa nulis kalimat puitis, rumiiiit hehe..

    ReplyDelete
    Replies
    1. ya mbak, sekarang mah sudah lupa soalnya cintanya sudah ke ganti sama blog :)
      gpp mbak, saya juga lagi belajar so puitis :)

      Delete
  6. sip lah setuju mba.
    semakin membenci kita juga akan berusaha untuk mencari cara tuk melupakan.
    nah dengan terus-terusan mencari cara tuk melupakan itu sebenarnya mengingat namun dengan cara yang berbeda. :)

    ReplyDelete

Apalah Arti Coretan Ini Tanpa Komentar Anda